Beranda

Sabtu, 05 Mei 2012

Gigi asli vs. gigi palsu

Bagaimana membedakan gigi asli dengan gigi palsu?
Gigi memiliki struktur tertentu yang tidak bisa ditiru oleh pembuat gigi palsu. Gigi palsu dibuat hanya menyesuaikan bentuk dan ukuran gigi dengan gigi asli yang digantikannya namun strtuktur internalnya tidak dapat tergantikan. Gambar di bawah ini menunjukkan anatomi gigi manusia.

Sumber gambar: http://www.dimensionsofdentalhygiene.com/ddhright.aspx?id=12867

Berikut ini susunan dan nama-nama gigi-geligi manusia.
a. Gigi susu
Sumber gambar: http://www.ada.org/sections/publicResources/pdfs/chart_eruption_primary.pdf
b. Gigi tetap
Sumber gambar: http://www.ada.org/sections/publicResources/pdfs/chart_eruption_perm.pdf



Tautan penting/bacaan tambahan:

Antropologi gigi


Antropologi gigi merupakan kajian atas gigi-geligi manusia yang didapat dari cetakan gigi-geligi manusia hidup atau dari tengkorak yang terdapat pada tinggalan arkeologis dan koleksi fosil. Di dalamnya termasuk mempelajari pertumbuhan gigi, teori tentang asal-muasal gigi, gigi-geligi primata, dan variasi populasi. 

Antropologi gigi berguna untuk: 
1.  melacak hubungan filogenetik dan kecenderungan perubahan ukuran, bentuk dan jumlah gigi (variasi mahkota gigi dan morfologi gigi).
2.  mendapatkan  petunjuk tentang perilaku diet dan budaya (keausan mahkota gigi dan patologi gigi).
3.  memperkirakan penyakit dan tekanan diet.
4.  merekonstruksi kondisi sosial budaya sebuah masyarakat (modifikasi gigi).
5.  memberi data untuk identifikasi kasus-kasus forensik (bekas gigitan, pola khas oklusi dan keausan, gigi hilang dan ditambal )
6.  pembuktian penting bagi sistematika dan penentuan hubungan biologis antarindividu/ antarkelompok (anatomi perbandingan gigi).
7.  mempelajari dimorfisme seksual (diameter mahkota gigi: pada manusia modern terdapat perbedaan 10%   untuk tinggi mahkota, 20% untuk beratnya. Pada populasi sekarang  dimorfi seksual terbesar terdapat pada caninus bawah, yaitu hingga 7,3%).

Tautan penting:

Buku: Irish, J.D. and Nelson, G.C., Technique and Application in Dental Anthropology

Jumat, 04 Mei 2012

Taphonomy


Tafonomi adalah cabang ilmu yang penting untuk diketahui jika kita mempelajari  sisa-sisa mahluk hidup baik fosil maupun non-fosil.  Taphonomy (b. Yunani, taphos = kubur dan nomy = klasifikasi) adalah bagian/cabang dari paleontologi, paleantropologi, dan bioarkeologi yang mengaji sisa-sisa manusia dan binatang dalam kaitannya dengan transformasi postmortem (pascamerta, setelah mati) yang terjadi di situs-situs kubur. Dalam arti luas, tafonomi mempelajari proses-proses yang mengarah pada fosilisasi, berikut tahap-tahap perubahan yang terjadi pada rangka yang disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan (action of environmental factors). Pengetahuan yang dikumpulkan dari studi tafonomi sangat berguna bagi ilmu forensik sebagai alat analisis terhadap sisa-sisa manusia di TKP, kuburan massal, ataupun di area-area bencana massal.

Osteologi, geokimia, dan entomologi (ilmu tentang serangga) adalah aspek-aspek penting dalam tafonomi karena rangka dan pecahan rangka dapat memberi informasi tentng kondisi individu ketika hdup, makanan yang dikonsumsi, ada tidaknya infeksi, keausan dan kerusakan sendi tertentu karena aktivitas berulang, ukuran otot, dan peristiwa-peristiwa pascamerta. Dengan demikian, apa yang akan terjadi pada organisma hidup versus karakteristik lingkunga bisa disimpulkan dari analisis tersebut. Dengan analisis tersebut juga dapat diketahui beban/kekuatan dan unsur-unsur kimia apa yang telah berperan terhadap sisa-sisa individu setelah dia mengalami kematian. Ketika organisma mati dan dikubur atau terkubur oleh lapisan tanah sedimen seperti lempung, pasir, abu vulkanik, atau es maka proses tafonomik transformasi pascamerta pun dimulai; proses ini bisa membuat mayat  menjadi mumi (mumifikasi), membusuk (dekomposisi), ataupun menjadi rangka (skeletonization). Jika kondisinya tepat maka rangka akan menjadi fosil. Tulang bisa mengalami transformasi karena aktivitas hewan pemakan bangkai, atau hanyut oleh sungai dan tercerai-berai di bantaran sungai jauh dari tempatnya semula sebelum tulang tersebut menjadi fosil.

Ada tiga tahap transformasi pascamerta yang dipelajari dalam tafonomi, yaitu nekrologi (necrology), biostratinomi (biostratinomy), dan diagenesis. Nekrologi merujuk pada faktor-faktor yang ada pada saat kematian atau yang langsung berkaitan dengan sebab kematian. Kajian nekrologi mencakup pemeriksaan tulang dan tubuh apakah ada fraktur/retak pada tengkorak, bekas taring atau cakar pada tulang, tanda-tanda malnutrisi, bengkak, infeksi, lebam karena benda tumpul, peluru, atau terbakar adalah beberapa petunjuk untuk mengetahui penyebab dan peristiwa-peristiwa di sekitar kematian. Biostratinomi mengidentifikasi perubahan-perubahan yang disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan yang ada di situs kubur (lubang kubur, pekuburan, dan kuburan massal), atau di tempat mayat/rangka ditemukan/ditinggalkan, seperti dasar sungai atau dasar danau, tanah sedimen, atau hutan. Beberapa peristiwa dalam tahap ini dapat meninggalkan bekas pada rangka, seperti bekas dimangsa pemakan bangkai, aktivitas enzim dan bakteri, aktivitas serangga, dan hanyut terbawa air atau tanah longsor. Tahap terakhir, beberapa pecahan tulang atau seluruh rangka terkubur dalam kondisi yang menunjang diagenesis, yaitu proses litifikasi (kompaksi) sedimen yang menutupi rangka, yang akhirnya dapat mengakibatkan tulang menjadi fosil. Fosilisasi bisa terjadi di lingkungan daratan (terestrial) maupun perairan (maritim), dan memberi petunjuk kepada peneliti mengenai perubahan-perubahan lingkungan, geologikal, topografikal dan iklim yang terjadi di Bumi sepanjang proses fosilisasi tersebut. Kajian tentang lapisan-lapisan bawah laut terhadap binatang laut atau yang bercangkang memungkinkan didapatnya deskripsi tentang perubahan iklim radikal yang terjadi pada zaman geologi yang berbeda-beda.

Tafonomi forensik memusatkan kajian pada transformasi biologikal dan biokimiawi perimortem (pada saat terjadinya kematian) dan intermediate postmortem (hitungan hari hingga minggu setelah kematian) untuk menentukan penyebab kematian, memperkirakan waktu kematian, dan untuk mengidentifikasi rangka manusia seperti seks, umur, ras, dan – jika memungkinkan – identitas individu. Pemahaman mengenai bagaimana lingkungan yang berbeda berperan dan berpengaruh pada perubahan biologikal dan biokimiawi pada rangka manusia (berpengaruh pada proses pembusukan) sangat krusial untuk interpretasi forensik pada kuburan massal, bencana massal, korban perang, dan korban pembunuhan.

Sumber: World of Forensic Science, 2006.

Bacaan tambahan: 

Kamis, 03 Mei 2012

Antropologi forensik (2)

Melanjutkan tulisan sebelumnya, bagian ini menerangkan kegunaan antropologi forensik dan penerapannya di lapangan.

Antropologi forensik berguna dalam membantu mengidentifikasi sisa rangka untuk mengungkap identitas mayat.

  1. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sebagai langkah pertama untuk menentukan apakah sisa-sisa tersebut berasal dari manusia dan selanjutnya dapat menentukan jenis kelamin (seks), perkiraan usia, bentuk tubuh, dan pertalian ras.
  2. Pemeriksaan dapat juga memperkirakan waktu dan penyebab kematian, riwayat penyakit dahulu atau luka yang saat hidup menimbulkan jejak pada struktur tulang
Apa perbedaan dan persamaan antropologi forensik dengan kedokteran forensik?
Persamaannya, keduanya sama-sama bekerja di ranah hukum (membantu penyidik mengungkapkan identitas mayat). Perbedaannya, kedokteran forensik meneliti mayat yang masih memiliki jaringan lunak sedangkan antropologi forensik meneliti sisa mayat berupa rangka (sudah tidak memiliki jaringan lunak).

Body farm (lihat video)
Body farm adalah fasilitas penelitian tempat proses pembusukan mayat dipelajari dalam berbagai setting. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih  baik tentang proses pembusukan agar didapat informasi yang dibutuhkan (seperti waktu kematian dan apa yang terjadi saat kematian) dari rangka manusia. Penelitian body farm sangat penting bagi antropologi forensik dan ilmu-ilmu yang berkaitan, dan aplikasinya di lapangan sangat berguna dalam penegakan hukum dan ilmu-ilmu forensik.

Body farm pertama dan terbesar adalah milik University of Tennessee Anthropological Research Facility di Amerika Serikat. 

Metode dalam osteologi


Ada dua metode besar yang digunakan dalam studi osteologi, yaitu metrik dan nonmetrik. 
Metrik: osteometri (pengukuran tulang) dan odontometri, yaitu pengukuran gigi-geligi.
Nonmetrik: osteoskopi (pengamatan tulang) dan odontoskopi (pengamatan gigi-geligi).

KEGUNAAN OSTEOLOGI 
Identifikasi sisa manusia berdasarkan; umur, seks, pertumbuhan, perkembangan dalam konteks biokultural, dan perkiraan jarak waktu sejak individu mati.

Osteologi juga digunakan dalam penelitian-penelitian:

  Kesehatan
  Demografi
  Diet
  Penyakit
  Pola aktivitas
  Sosok (physique)
  Genetika populasi
  Migrasi populasi
  Peperangan di masa kuno
  Perbedaan sosial
  Identifikasi rangka yang tidak dikenal
  Penyelidikan kriminal
  Korban perang
Mengapa kita mempelajari osteologi?
Dengan semakin memahami tulang dan rangka kita berdasarkan penelitian di bidang biologi manusia, anatomi dan fisiologi, maka kita akan dapat .....
  Mengembangkan berbagai perawatan untuk berbagai penyakit dan kondisi tulang
  Membuat rancangan ergonomis untuk sepatu, mobil, dan ruang kerja
  Mempelajari evolusi hominid
  Mempelajari apa yang dialami manusia di masa lalu (sisa rangka merupakan salah satu sumber untuk mempelajari bukti-bukti arkeologis)
  Mengetahui adaptasi manusia terhadap lingkungan
  Mengetahui kondisi kesehatan pada masa prasejarah
  Mengetahui struktur dan komposisi suatu populasi
  Mengidentifikasi korban kejahatan dan memecahkan masalah kriminal dalam lingkup forensik
HUKUM WOLFF
Bone transformation (1869): Bones are remodeled during life to fit their mechanical functions (selama individu hidup, tulangnya mengalami perubahan sesuai dengan fungsi mekaniknya).
Julius Wolff (German orthopedic surgeon)
Variasi pada rangka manusia
Faktor penyebab:
  1. Ontogeni (pertumbuhan): rangka  anak-anak berbeda denga rangka dewasa  (ini berguna untuk penentuan umur individu saat mati).
  2. Dimorfi seksual : tulang dan gigi  perempuan lebih kecil daripada tulang dan gigi laki-laki.
  3. Perbedaan geografis (population based) : menentukan asal-usul geografis (“ras”) rangka.
  4. Variasi individual (idiosinkratik) : tidak ada dua individu yang identik, sekalipun kembar.
White, Tim D., Human Osteology.


Unduh:

Selasa, 01 Mei 2012

The Archaeology of Human Bones

Unduh di sini: http://www.4shared.com/office/dJNTHG7-/Mays_-_The_Archaeology_of_Huma.html
Lihat juga: 

http://cw.routledge.com/textbooks/resourcesforarchaeology/resources_archaeology_bones.asp

Sistem rangka manusia

Sumber gambar: http://biology.clc.uc.edu/courses/bio105/bone.htm

Rangka manusia dewasa terdiri atas 206 tulang, dengan rincian sbb:
§Tengkorak :  22
§Telinga :  6
§Tulang tenggorak : 1
§Tulang bahu : 4
§Tulang dada : 25
§Tulang belakang : 26
§Tulang lengan : 6
§Tulang tangan dan jari tangan : 54
§Tulang panggul : 2
§Tulang tungkai : 8
§Tulang kaki dan jari kaki : 52


Tautan penting: http://www-personal.une.edu.au/~pbrown3/skeleton.pdf